Arsip Tag: burung kakatua

Keunikan dan Sifat yang Jarang Diketahui dari Burung Kakatua

Keunikan dan Sifat yang Jarang Diketahui dari Burung Kakatua – Burung kaka tua atau kaktua yang merupakan salah satu jenis unggas peliharaan eksotis yang sangat populer di Indonesia. Dikenal karena kecerdasannya yang luar biasa. Kemampuannya meniru suara manusia, rentang usia yang bisa mencapai puluhan tahun. Burung ini sering di anggap sebagai anggota keluarga sendiri oleh para pemiliknya. Interaksi dengan hewan peliharaan yang cerdas seperti kakatua memang bisa memberikan hiburan tersendiri ditengah padatnya rutinitas harian. Meskipun memelihara burung eksotis ini membawa banyak kebahagiaan. Sangat penting untuk menyadari bahwa interaksi yang erat antara manusia dan ungga smembawa implikasi kesehatan tertentu. Sebagai dokter dan apoteker, kita menemukan kasus gangguan pernapasan atau infeksi yang tidak di sadari bersumber dari hewan peliharaan di rumah. Kondisi ini masuk ke dalam kategori penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang bisa di tularkan dari hewan ke manusia. Baik melalui kontak langsung, udara maupun kotoran.

1. Manfaat Memelihara untuk Kesehatan Mental

Sebelum kita membahas tentang risiko medis, penting untuk mengaku bahwa memelihara burung kakatua memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan mental psikologis manusia. Berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa ikatan bonding antara manusia dan hewan peliharaan bisa membantu memicu pelepasan hormon oksitosin, endorfin dan dopamin dalam otak. Hormon-hormon ini bertanggung jawab untuk menciptakan perasaan bahagia, relaksasi dan mengurangi tingkat kortisol yang merupakan hormon stress utama.

2. Risiko Penyakit Zoonosis

Risiko kesehatan dari memelihara keluarga burung beo dan kakatua adalah penyakit zoonosis pernapasan yang di kenal sebagai Psittacosis atau Demam Beo. Penyakit ini di sebabkan oleh bakteri intraseluler obligat yang bernama Chiamydia psittaci. Bakteri ini hidup di dalam sel inangnya dan sangat mudah menular. Terdapat dlaam kotoran, sekret hidung dan debu bulu dari burung yang terinfeksi. ironisnya burung kakatua yang membawa bakteri ini sering tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali. Bakteri ini bisa bertahan hidup di lingkungan selama berbulan-bulan terutama jika berada di tempat yang kering. Penularan ke manusia saat sedang membersihkan kandang atau sekedar bermain dengan burung di ruangan bersirkulasi udara buruk. Menjadi vektor penyebaran bakteri Salmonella dan Campylobacter yang menyebabken gangguan pencernaan berat pada manusia.

Baca Juga : Mengenal Jenis Parkit Australia untuk Menambah Ilmu

3. Gejala infeksi

Ketika seseorang menghirup partikel bakteri Chlamydia psittaci. Masa inkubasi waktu dari paparan hingga munculnya gejala berkisar 5-14 hari. Pada manusia Psittacosis seringkali salah diagnosis karena gejalanya sangat mirip dengan flu berat, COVID-19 atau pneumonia atipikal biasa. Gejala awal meliputi demam tinggi yang munculnya tiba-tiba, menggigil, nyeri otot dan sendi yang parah serta sakit kepala yang intens. Seiring berjalannya waktu, infeksi bakteri ini akan turun ke saluran pernapasan bawah dan menyebabkan batuk kering yang sangat mengganggu. Dalam kasus yang lebih berat, pasien bisa mengalami sesak napas (dispnea), nyeri dada, hepatomegali (pembesaran hati), hingga splenomegali (pembesaran limpa).

4. Bird Fancier’s Lung (Alveolitis Alergika)

Selain penyakit infeksi bakteri, ancaman kesehatan lain yang mengintai para pemilik burung kakatua adalah sebuah kondisi imunologi yang di sebut Brd Fancier’s Lung . Kondisi ini di klasifikasikan sebagai hypersensitivity Pneumonitis. Kondisi ini bukan sebuah infeksi, melainkan reaksi alergi ekstrem dari sistem kekebalan tubuh terhadap partikel protein asing yang terdapat pada dander atau serpihak kulit mati, serbuk bulu yang di hasilkan oleh kakatua. Serbuk ini sangat halus dan mudah melayang di udara, paru-paru manusia akan mengalami peradangan dan jika paparan terus berlanjut bisa memasuki fase kronis.